Sempat Atheis Walau Sebentar Ketika selesai membaca essei karangan Pungky Arkadievich berjudul Atheis Paling Sederhana, ada rasa bersalah yang menyentil hati, sungguh. Rasa keraguan akan keberadaan Tuhan seperti yang sang istri rasakan, yang sebenarnya malu untuk saya akui, kalau saya pun pernah seperti itu. Atheis Paling Sederhana, begitu judulnya. Dalam essei ini sang suami mengingatkan kepada istrinya akan quotes Sujiwo Tedjo, “Bertanya besok makan apa adalah bentuk penghinaan pada Tuhan”. Lagi-lagi saya tersentil. Mungkin sudah ada ribuan kali keraguan seperti itu dalam benak. Contohnya, ketika orang tua saya mengalami kepailitan, saya selalu berdoa pada Tuhan untuk menambahkan rezeki kedua orang tua saya, agar kami bisa makan enak. Namun saya merasa, Tuhan tidak pernah mengabulkan doa saya dan akhirnya saya memutuskan untuk berhenti berdoa. Padahal tanpa saya sadari saya masih bisa makan saat itu walau bukan dengan lauk yang enak. Pernah ketika itu, ketika ...