Sempat
Atheis Walau Sebentar
Ketika selesai membaca essei karangan Pungky Arkadievich berjudul Atheis
Paling Sederhana, ada rasa bersalah yang menyentil hati, sungguh. Rasa keraguan
akan keberadaan Tuhan seperti yang sang istri rasakan, yang sebenarnya malu untuk
saya akui, kalau saya pun pernah seperti itu.
Atheis Paling Sederhana, begitu judulnya.
Dalam essei ini sang suami mengingatkan kepada istrinya akan quotes Sujiwo Tedjo, “Bertanya besok
makan apa adalah bentuk penghinaan pada Tuhan”. Lagi-lagi saya tersentil.
Mungkin sudah ada ribuan kali keraguan seperti itu dalam benak. Contohnya, ketika
orang tua saya mengalami kepailitan, saya selalu berdoa pada Tuhan untuk
menambahkan rezeki kedua orang tua saya, agar kami bisa makan enak. Namun saya
merasa, Tuhan tidak pernah mengabulkan doa saya dan akhirnya saya memutuskan
untuk berhenti berdoa. Padahal tanpa saya sadari saya masih bisa makan saat itu
walau bukan dengan lauk yang enak.
Pernah ketika itu, ketika saya mengikuti ujian Seleksi Bersama Masuk PTN
atau SBMPTN, entah keberanian dari mana saya bilang pada diri saya”Ini kali
terakhir aku yakin pada-Mu”. Gila, bukan? Ini sih mungkin bukan Atheis paling
sederhana lagi. Gagal dalam seleksi masuk PTN membuat saya jadi hilang
kepercayaan kekuatan doa, tidak mau ibadah, dan tidak mau baca Al-quran.
Padahal Tuhan mah biasa aja, tidak akan hilang pengikut jika saya seperti itu,
Tuhan tidak akan dirugikan. Ini malah berani-beraninya saya menghina Tuhan.
Pernah saya menemukan sebuah quotes di
Quora akan sebuah pertanyaan “ if
everything is already written in Luh-Mahfuz, then why should I wish?”,
jawabannya adalah “maybe on some pages,
Allah has written, ‘As you wish’. Saya lagi-lagi tersentil membacanya.
Dan ternyata, sebulan kemudian ternyata saya diterima di Politeknik Negeri
Jakarta. Nyatanya ini hanya masalah kepercayaan, yakin saja pada Tuhan bahwa Ia
tahu mana tempatmu, dan usaha juga tidak akan mengkhianati hasil.
Ketika mengalami sedikit kesusahan, terkadang saya bertanya-tanya,’dimana
keberadaan Tuhan’. Namun ketika saya dalam kesenangan, terkadang saya lupa
dengan keberadaan Tuhan. Manusia kadang aneh, ketika senang dia menganggap
kesuksesannya ini tidak ada campur tangan dari Tuhan, sehingga lupa. Tapi,
ketika dia susah, menganggap ini ujian Tuhan. Apakah hanya saya saja? Atau
memang manusia dasarnya seperti itu? Padahal kalau kita sadari, ditimpa
kesusahan atau dalam kesenangan, semua merupakan ujian Tuhan, bukan?
Saya paham sekarang, semua yang saya lakukan saat itu adalah bentuk
penghinaan pada Tuhan. Jika saya tahu saat itu, tentu saja saya tidak akan
berani melakukannya. Malu sekali rasanya. Sekarang, atau nanti, mungkin saya
akan mengingat-ingat jika banyak bentuk dari penghinaan pada Tuhan yang kadang
tidak disadari. Saya tidak ingin menjadi Atheis, walaupun sesederhana apapun.

Komentar
Posting Komentar