PERSIAPAN UJIAN AKHIR SEMESTER
MATA KULIAH DOKUMENTASI DAN PERPUSTAKAAN

Nama               : Nur Apriani J
Kelas               : PB 2A
Mata Kuliah    : Dokumentasi dan Perpustakaan

1.      Menganalisa Kasus Rasisme George Floyd
Kematian George Floyd (46) yang terjadi pada 25 Mei lalu ramai dibicarakan hampir di seluruh dunia akibat kematiannya di tangan polisi Amerika Serikat. Sebelum kematiannya di tangan polisi bernama Derek Chauvin, Floyd dilaporkan atas dugaan memakai uang palsu senilai US$ 20 untuk membeli rokok di toko kelontong, Cup Foods.
Dalam laporan tersebut dijelaskan bahwa pegawai toko tersebut melaporkan ke 911 atas gerak mencurigakan Floyd. Ia sempat meminta Floyd untuk mengembalikan rokok tersebut, namun ditolak oleh Floyd. Pegawai tersebut kemudian mencurigai Floyd mabuk dan tak dapat menguasai diri. Tak lama polisi datang menghampiri Floyd yang duduk di ujung luar toko.
Dari vidio yang beredar, Derek Chavin terlihat menekan leher Floyd dalam keadaan telungkup dengan lututnya, padahal saat itu tangan Floyd diborgol. Dalam vidio tersebut terekam jika Floyd sempat memohon untu dilepaskan dan berkata kesulitan untuk bernapas, sayangnya Derek terus mengabaikannya.
Kejadian itu terekam selama kurang lebih 8 menit, Floyd terus memohon untuk dilepaskan karena tidak bisa bernapas, bahkan mengeluarkan darah dari hidungnya. Beberapa orang yang berada di lokasi meminta Derek untuk melepaskan lututnya dari leher Floyd, sayangnya Derek mengabaikan permintaan tersebut sampai akhirnya Floyd terlihat tidak lagi bergerak. Kemudian ambulans datang dan membawa Floyd untuk segera diberi pertolongan menuju rumah sakit Hennepin County Medical Center, sayangnya Floyd dinyatakan meninggal dunia.  
George dimakamkan pada Selasa (9/6) di Houston, Texas. Sehari sebelumnya, ribuan orang telah membanjiri tempat ia dimakamkan untuk memberikan penghormatan terakhir.
Kejadian ini tentunya memicu kemarahan orang-orang di Amerika Serikat bahkan hingga seluruh dunia. Kejadian ini disangkutpautkan dengan tindak rasisme antara ras kulit hitam dan kulit putih. Floyd merupakan bukti kesekian dari ketidakadilan terhadap orang-orang kulit hitam. 
Akibat dari kematian George Floyd, demo besar terjadi di wilayah tersebut sehari setelahnya, kemudian menyebar ke berbagai negara bagian AS seperti Atlanta, New York, Washington DC, bahkan Inggris.
Bahkan para selebriti Hollywood banyak yang menyuarakan #BlackLivesMatter, seperti Halsey, Zayn Malik, Ariana Grande, Lady Gaga, Billie Eilish, Hailey Bieber, Kehlani, Kim Kardashian, dan masih banyak lagi.
Sebelum membahas demonstrasi yang bertajuk Black Lives Matter yang bertebaran dimana-mana, kita harus mengetahui bagaimana gerakan ini bermula. Istilah Black Lives Matter adalah sebuah gerakan yang diinisiasi pada 2013 saat menanggapi pembebasan Travyon Martin. Gerakan ini lalu membentuk sebuah yayasan bernama Black Lives Matter Fondation yang berada di Amerika Serikat, Inggris, dan Kanada.
Tak hanya kasus Trayvon Martin di tahun 2013, pada tahun 2014 pria kulit hitam bernama Eric Garner tewas dicekik polisi di New York. Kemudia di tahun yang sama, polisi di AS menembak mati Michael Brown, seorang remaja kulit hitam yang tak bersenjata.
Gerakan Black Lives Matter kini kembali menggema di AS, buntut dari pembunuhan George Floyd. Black Lives Matter Foundation membawa misi memberantas supremasi kulit putih dan membangun kekuatan lokal untuk melakukan intervensi dalam kekerasan yang ditimbulkan pada komunitas kulit hitam oleh negara atau warga.
Berikut beberapa negara yang ikut menyuarakan demo #BlackLivesMatter dan kejadian di dalamnya.


1.      Amerika Serikat
Aksi soladiritas terhadap warga kulit hitam tidak hanya berlangsung di jagat maya, karena warga di berbagai negara bagian juga melakukan aksi protes turun ke jalan untuk menyerukan keadilan rasial.
Aksi protes yang dilakukan warga Amerika ini tidak dipimpin oleh seorang pemimpin sebagaiman aksi pada umumnya, aksi jenis ini dinamai leaderless movement.
Sebelum adanya demo aksi membela George Floyd, warga Amerika berbondong-bondong turun ke jalan di berbagai wilayah untuk menyampaikan protes akibat kebijakan lockdown.
Di Ohio, Colombus, massa berkerumun di gedung pemerintah di Capitol Square, menggedor pintu-pintu menuntut untuk menemui gubernur. Sementara di Michigan, mereka turun ke ibu kota negara bagian itu dengan ratusan mobil membunyikan klakson, meneriakkan slogan-slogan dan melambai-lambaikan bendera nasional Amerika.
Mereka menyalahkan WHO karena negara mereka kini berada di posisi terbalik. Massa mengaku  tidak takut dengan virus corona dan mereka nekat meminta lockdown segera dibuka.
Terkait aksi demo Black Lives Matter, terjadi kebrutalan lain. Salah satunya adalah 2 polisi New York mendorong lansia berumur 75 tahun  hingga jatuh dan berdarah. Kejadian ini terjadi pada Kamis (4/6) di hari kesepuluh demo Black Lives Matter.
Kejadian ini terekam oleh seorang reporter stasiun radio publik lokal. Insiden yang etrekam ini mendapat kecaman keras di media sosial. Bagaimana tidak? Dalam vidio tersebut menunjukkan pria lansia itu mendekati barisan petugas polisi. Seorang petugas mendorongnya dengan tongkat dan polisi kedua mendorongnya dengan tangannya. Pria lansia ini pun jatuh ke tanah dan darah menetes dari kepalanya.
Di tengah kerusuhan pun, reporter DW bernama Stefan Simon beserta krunya mengalami sejumlah insiden saat meliput situasi di Minneapolis, Amerika Serikat.
Pada insiden pertama, Stefan baru saja akan memulai siaran langsung di depan kamera dengan latar belakang mobil polisi dan beberapa petugas, ketika sebuah peluru tiba-tiba berdesing.
Mendengar suara peluru, Stefan terlihat secara reflek berusaha menghindar. Seorang krunya berkata, “Stefan, mereka menembak kearahmu.” Stefan kemudian berbalik ke arah polisi dan berteriak, “Kami Cuma press, kami dari media, berhenti menembakki kami! Kami sedang siaran langsung!”
Sementara di insiden kedua, seorang polisi meminta tim DW untuk mematikkan kamera dan kembali ke dalam mobil. Polisi tersebut meminta tim DW pergi ke tempat lain jika tidak mau ditahan. Seorang polisi mengatakan “Kami melakukan tugas kami.” Tim pun akhirnya meninggalkan lokasi tersebut.

2.      Inggris
Ribuan warga Inggris turun dalam menyuarakan aksi demo #BlackLivesMatter. Aksi ini digelar di banyak kota, antara lain London, Machaster, Glasglow,Newcastle, Edinburgh dan Bristol.
Di Bristol, ribuan orang berbaris melalui pusat kota setelah kerumunan setidaknya 5000 orang berkerumun di area College Green untuk mendengarkan orasi dari pembicara. Mereka juga mengheningkan cipta selama 8 menit, seperti durasi Derek Chauvin menginjak leher Floyd.
Bahkan, pembalap juara dunia Formula One (F1) Lewis Hamilton ikut turun ke jalan dalam demonstrasi di Hyde Park, London pada Minggu (21/6). Ia mengunggah fotonya pada akun Twitternya.
Di London terjadi bentrokan pada 7 Juni 2020. Beberapa orang yang hadir dalam aksi protes itu mengenakan topeng wajah menyandang slogan “Rasisme adalah virus”. Pada hari itu, ribuan orang berkumpul di London pusat dalam sebuah demonstrasi yang damai tetapi berakhir dengan sejumlah kecil orang bentrok dengan polisi di dekat kediaman Downing Street milik Perdana Menteri Boris Johnson.
Hal lain yang terjadi di London adalah penghancuran patung perunggu Edward Colston, seorang budak abad ke-17 yang terkenal. Colston adalah anggota Royal African Company, yang menyangkut sekitar 80.000 pria, wanita, dan anak-anak dari Afrika ke Amerika.
Saat kematiannya pada 1721, Colston mewariskan kekayaannya pada badan amal dan warisannya masih dapat dilihat di jalan-jalan monumen, dan bangunan di Bristol.
Setelah penghancuran patung tersebut, pengunjuk rasa berlutut di leher patung perunggu Colston kemudian menyeret patung tersebut ke pelabuhan. Sejarawan Prof David Olusga mengatakan bahwa patung tersebut memang seharusnya diturunkan sejak lama karena patung tersebut telah menjadi kontroversi di kota itu selama bertahun-tahun.  

3.      Prancis
Pada Sabtu (13/6), ribuan orang berkumpul dan menggelar aksi di alun-alun Place de la Republique, Paris, Prancis. Dilansir di The Guardian, aksi tersebut semula berjalan lancar damai, tetapi setelah 3 jam, kerusuhan muncul. Polisi membubarkan massa dengan tembakan gas air mata.

4.      Jerman
Ratusan orang turun ke jalan ibu kota Jerman pada hari Minggu (31/5) untuk menunjukkan solidaritas terhadap aksi protes menentang kekerasan dan rasisme di Amerika Serikat.
Di Berlin, beberapa ratus massa melakukan protes selama dua hari berturut-turut, dan berkumpul di depan Kedutaan Besar AS di Jerman. Demonstran membawa poster bertuliskan, “Berhentilah membunuh kami”, dan “Keadilan bagi George Floyd”.
Di Mauerpark, tempat para seniman jalanan melukis bagian-bagian bekas Tembok Berlin , kini juga ada gambar untuk mengenang George Floyd.

2.      Konflik China India memanas
Lokasi bentrok pada selasa (16/06) berada di perbatasan de facto kedua negara yang dinamakan Garis Kendali Aktual atau LAC, di Lembah Galwan Ladakh. Lembah ini terletak di wilayah sengketa Kashmir yang sering menjadi sumber konflik karena adanya sengketa wilayah antara India, Pakistan, dan China.
Dikutip dari BBC Indonesia, Panjang perbatasan India dan China membentang lebih dari 3.440 km dan di bentangan itu kedua negara memiliki beberapa klaim teritorial yang bertabrakan satu sama lain. Terkadang perselisihan perbatasan diwarnai adu dada, saling dorong, serta saling melempar batu. Ketegangan terbaru terjadi di dekat sektor Naku La di Sikkim, lebih dari 5000 meter di atas permukaan laut kawasan Himalaya.
Sejak 1950an, China menolak mengakui perbatasan kedua negara yang ditentukan pada masa penjajahan Inggris di India. Pada 1962, perseteruan ini memicu perang singkat yang membuat India harus menanggung kekalahan memalukan. Sejak perang 1962, kedua negara ini saling menuding satu sama lain soal pendudukan wilayah.
Dalam beberapa tahun terakhir, tentara patroli perbatasan kedua negara saling berhadapan satu sama lain. Pada 2013 dan 2017, pertemuan ini memicu ketegangan serius. Setelah ketegangan terakhir, Perdana Menteri Modi dan Presiden Xi Jinping menggelar pertemuan untuk meluruskan perbedaan.
India dan China kini berdiskusi untuk meredakan situasi. Perwira senior militer kedua negara telah bertemu pada 6 Juni dan bertemu kembali pada 16 Juni. Pertemuan itu digelar di Lembah Galwan dekat lokasi perseteruan.

3.      Jokowi Ancam Reshuffle Menteri
Dalam sidang Kabinet Indonesia Maju pada tanggal 18 Juni 2020, Jokowi mengeluarkan kata-kata tegas terkait kinerja para menterinya. Vidio itu viral di media sosial dan banyak tanggapan dari warganet.
Vidio berdurasi 10 menit itu dirilis di akun Youtube Sekretariat Presiden. Dalam vidio tersebut, Presiden Joko Widodo menunjukkan kemarahannya terhadap para menteri yang dianggap memiliki kinerja ‘tak baik’ di tengah wabah virus corona. Misalnya pada Menteri Kesehatan, Jokowi menyebut dari anggaran yang disediakan hanya 1,8% yang dikeluarkan untuk dana kesehatan menanggulangi pandemi ini. Kejengkelannya berujung pada ancaman akan reshuffle kabinet.

4.      DPR Kembali Mengulur RUU PKS
RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS)  kembali diundur dan ditarik dari daftar Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas 2020. Wakil Ketua Komisi DPR VIII DPR, Marwan Dasopang mengatakan pembahasan RUU PKS saat ini sulit dilakukan.
“Kami menarik RUU PKS karena pembahasannya agak sulit,” ujar Marwan dalam rapat bersama Badan Legislasi (Baleg) DPR, Selasa (30/6/2020). Ia menjelaskan kesulitan yang dimaksud karema lobi-lobi fraksi dengan seluruh fraksi di Komisi VIII menemui jalan buntu.
Marwan mengungkapkan jika sejak periode lalu pembahasan RUU PKS masih terbentur soal judul  dan definisi kekerasan seksual. Selain itu, aturan mengenai pemidanaan masih menjadi perdebatan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

REKOMENDASI WATTPAD STORIES YANG WAJIB KAMU BACA

Tak Lagi Sama

Cemas