Survey Media: Bikin Panik atau Edukatif?

MEDIA : EDUKATIF ATAU MALAH BIKIN PANIK?
Oleh Nur Apriani Jamil


Bukan hanya Indonesia, bahkan dunia saat ini tengah memerangi pandemi dari virus yang menyerang pernapasan, virus ini dinamai dengan COVID-19 ( Corona Virus Disease 19). Virus yang pertama kali ditemukan di Wuhan,China pada akhir 2019, telah menyebar hingga seluruh dunia dan menjadi pandemi global. Bahkan, angka kasus COVID-19 telah menginfeksi lebih dari 1,5 juta orang di dunia, dan 3293 orang terinfeksi di Indonesia (per 10 April 2020)

Berbagai pemberitaan mengenai virus yang masih berkerabat dengan SARS dan MERS ini terus di-follow up­ di berbagai media. Mulai dari media daring, media sosial, ataupun situs resmi pemerintah. Bahkan, pemberitaan mengenai COVID-19 ini masih menjadi fokus utama dalam pemberitaan media.

Bicara mengenai media, tentu saja kita tahu bahwa peran media sangatlah penting. Semua hal yang terjadi, baik dalam negeri ataupun luar negeri dapat dirangkum dalam sebuah berita. Berita mengandung sebuah fakta berita dan fakta pernyataan narasumber terkait berita apa yang disampaikan. Sehingga, masyarakat mendapat infornasi yang jelas sumbernya.

Dan kini, berbagai media baik cetak maupun elektronik di dunia gencar memberitakan kasus COVID-19 yang sampai saat ini belum usai. Begitupun dengan media-media yang ada di Indonesia, mereka berlomba-lomba untuk menyampaikan informasi COVID-19 kepada khalayak umum. Mulai dari media cetak, elektronik, hingga media sosial terus mem-follow up berita tersebut.

Namun apakah media-media di Indonesia sudah memberikan rasa aman serta mengedukasi para pembacanya terkait pemberitaan COVID-19? Atau justru membawa dampak kepanikan bagi para pembacanya?

Untuk membuktikan hal tersebut, dilakukan survey terhadap 110 orang responden. Dari 110 responden, diantaranya terdapat 75 orang berjenis kelamin perempuan dan 35 orang berjenis kelamin laki-laki. Survey didominasi oleh kawula muda usia 20-27 tahun, berprofesi mahasiswa/i dan karyawan swasta.

Hasil survey tersebut menunjukkan, media yang digunakan untuk mengakses pemberitaan terkait COVID-19 di Indonesia, didominasi melalui media sosial (53,5%), diikuti media daring (23,3%) dan situs resmi pemerintah (23,3%).




Kemudian, responden diminta untuk menilai, apakah pemberitaan yang mereka temui di media-media tersebut tergolong edukatif atau justru malah membuat kepanikan?

Hasil survey menunjukkan bahwa pemberitaan di media tergolong edukatif, dengan perolehan suara 44,5%, setara dengan 49 orang. Dan 40,9% atau setara dengan 45 orang menilai membuat kepanikan.



Bicara mengenai pemberitaan mengenai COVID-19 yang terus di-update di media-media yang disebutkan tadi, para responden tentunya sudah menilai bukan? Apakah pemberitan tersebut edukatif atau buat panik. Dan tentunya para responden juga bisa menghitung, seberapa seringkah mereka menemukan media menyajikan berita-berita tersebut. 

Untuk mengetahui jawabannya, selanjutnya responden diminta untuk menjawab pertanyaan mengenai seberapa seringkah mereka menemukan pemberitaan COVID-19 di media yang bersifat mengedukasi, dan seberapa sering menemukan pemberitaan yang membuat kepanikan.

Walaupun sebelumnya responden telah menilai bahwa pemberitaan terkait COVID-19 di media Indonesia cenderung edukatif. Namun, hasil survey juga menunjukkan bahwa responden lebih sering menemukan berita di media yang bersifat membuat kepanikan dibandingkan dengan menemukan berita yang edukatif.

Ini berbanding terbalik dengan hasil survey dari media dikatakan edukatif.  Karena frekuensi responden menemukan berita edukatif lebih kecil dibanding frekuensi responden menemukan berita yang membuat kepanikan.





Aliansi Jurnalis Independen (AJI) menyampaikan media perlu menonjolkan perannya mendidik publik, menjalankan fungsi kontrol sosial dan bukan malah menakut-nakuti atau membuat publik lebih panik.

Untuk mengetahui pengukuran terhadap penilaian responden terhadap mana berita edukatif dan mana berita yang membuat panik. Selanjutnya responden disajikan beberapa pertanyaan, berita seperti apa yang menurut mereka termasuk berita edukatif terkait COVID-19? Dan berita yang seperti apa, yang justru membuat kepanikan terkait COVID-19?

Dari jawaban para responden, macam-macam berita di media-media Indonesia, yang tergolong bikin panik di antaranya; 1) Jumlah pasien yang terus bertambah, 2) Dampak COVID-19, 3) Lonjakan harga dan melemahnya rupiah terhadap dollar, dan 4) Identitas dan lokasi korban penderita COVID-19.




Jika memang media cenderung dikatakan membuat kepanikan, sebenarnya masih banyak sisi yang dapat digali oleh media tentang wabah COVID-19 ini untuk memberikan edukasi bagi masyarakat, alih-alih memunculkan pemberitaan yang membuat kepanikan.

Lalu, berita seperti apa yang mengedukasi menurut para responden? Hasil survey menunjukkan, berita yang mengedukasi di antaranya seperti ; 1) Perilaku hidup sehat yang diterapkan #dirumahaja, 2) Tips sederhana (misal berjemur di pagi hari), 3) Makanan yang sebaiknya dikonsumsi, 4) Pentingnya menutup mulut ketika bersin atau batuk.



Pernah suatu ketika, warganet ramai membicarakan seorang reporter dari salah satu media di Indonesia yang memberitakan kemunculan kasus COVID-19, reporter tersebut melaporkan secara langsung dari lokasi yang dekat rumah pasien COVID-19.

Yang sangat disayangkan, alih-alih berniat untuk menyampaikan laporan, reporter tersebut justru malah membuat kepanikan. Bagaimana tidak membuat panik, reporter tersebut menggunakan masker respirator, masker yang biasa digunakan dalam kondisi ancaman gas berbahaya.

Ini mengartikan, adanya dampak psikologis dari pemberitaan-pemberitaan tersebut di media. Media elektronik seperti televisi tentunya banyak dinikmati oleh masyarakat. Begitupun dengan media cetak dan media sosial.

Menanggapi hal tersebut, responden diminta untuk menjawab pertanyaan mengenai dampak dari pemberitaan yang membuat kepanikan bagi psikologis mereka. Apa saja dampak bagi mereka yang baru saja menonton atau membaca pemberitaan di media yang membuat kepanikan?

Hasil survey menunjukkan dampak psikologis dari pemberitaan yang membuat kepanikan di antaranya seperti berikut.



Walaupun begitu, responden menilai masih ada dan sering dijumpai pemberitaan yang mengedukasi. Seperti misalnya para influencer media sosial (contohnya instagram) yang menyajikan konten-konten mereka yang mengedukasi, yang tentunya membawa dampak baik bagi psikologis. 




Dari survey di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa media-media di Indonesia dapat dikatakan edukatif atau justru membuat kepanikan, tergantung dari cara media-media tersebut menyajikan berita. Dari keputusan media-media tersebut lah muncul opini-opini masyarakat tentang baik buruknya penyajian berita tersebut.

Sebagai penutup, marilah kita menjadi masyarakat yang kritis dan cerdas dalam menentukan pemberitaan yang layak dibaca, ditonton, atau disebarkan kepada masyarakat.

(Nur Apriani Jamil, Mahasiswi Teknik Grafika Penerbitan, Politeknik Negeri Jakarta)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

REKOMENDASI WATTPAD STORIES YANG WAJIB KAMU BACA

Tak Lagi Sama

Cemas